Apresiasi Puisi "Penerimaan" Karya Chairil Anwar



Apresiasi puisi “Penerimaan” karya Chairil Anwar 
Penerimaan 
Kalau kau mau kuterima kau kembali 
Dengan sepenuh hati 

Aku masih tetap sendiri 

Kutahu kau bukan yang dulu lagi 
Bak kembang sari sudah terbagi 

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani 

Kalau kau mau kuterima kau kembali 
Untukku sendiri tapi 

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi 


    Dengan membaca dan memahami makna puisi “Penerimaan” karya Chairil Anwar, ada hal yang perlu kita pelajari bahwa sebagai laki-laki yang baik dan sejati harus bisa menerima semua kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh pasangannya dan dalam menjalin hubungan harus bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan setia. Pada zaman sekarang banyak sekali laki-laki yang meninggalkan orang benar-benar tulus hanya untuk seseorang yang lebih mapan atau lebih baik begitupun sebaliknya dengan wanita. Dengan membaca dan memahami puisi ini pembaca atau kita bisa mengetahui bahwa pentingnya kesetiaan dan ketulusan dalam sebuah hubungan. 
 Analisis unsur fisik dan batin  
 Unsur Batin 
• Tema 
Puisi “Penerimaan” ini menggambarkan tentang cinta kasih antara pria dan wanita. Tokoh “aku” yang bersedia menerima kembali mantan  kekasihnya dengan sepenuh hati meskipun keadaan si wanita yang tidak baik atau tidak memungkinkan. Tokoh “aku” juga sangat setia menunggu si wanita untuk kembali padanya dan tokoh “aku” juga sangat tidak mau atau tidak suka melihat si wanita di rendahkan oleh orang lain. 
• Nada 
Nada yang digunakan dalam puisi tersebut adalah berupa nada sungguh-sungguh. Dimana tokoh “aku” benar-benar bersedia menerima kekasihnya kembali dengan keadaan si wanita yang sudah tidak baik lagi karena tokoh “aku” sangat mencintai sang wanita. Peyair juga bersungguh-sungguh tak ingin jika si wanita menjadi milik orang lain. Seperti pada kutipan “kalau kau mau kuterima kau kembali untukku sendiri tapi sedang dengan cermin aku enggan berbagi”.

• Rasa 
Adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat pada puisinya. Pada puisi ini rasa akan muncul ketika puisi ini dibacaka  dan dikenali melalui penggunaan ungkapan-ungkapan yang digunakan. Rasa yang tersimpan dari puisi ini adalah tegas, dimana penyair tidak ragu-ragu dalam menyikapi perasaannya terhadap si wanita dan ia bersedia menerima si wanita itu kembali dan ia pun tegas melarang si wanita untuk memberikan cintannya untuk orang lain. 
• Amanat 
Kita sebagai pembaca dapat mengambil pesan bahwa sebagai seorang laki-laki yang baik  harus setia dan bertanggung jawab dalam menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis yang sudah kita yakini bahwa dia adalah jodoh kita. 
 Unsur Fisik 
• Tipografi/perwajahan puisi 
Tipografi yang digunakan dalam puisi ini adalah  rata kiri dan pada puisi ini terdiri dari 6 bait yaitu pada bait pertama terdiri dari 2 baris, bait kedua 1 baris, bait ketiga 2 baris, bait keempat 1 baris, bait kelima 2 baris dan bait terakhir 1 baris. 
• Diksi 
Pilihan kata yang digunakan pada puisi ini adalah lebih banyak menggunakan makna denotasi tapi masih ada kata-kata yang bermakna konotasi. Makna denotasi terdapat pada baris “jika kau mau kuterima kau kembali; aku masih tetap sendiri; jangan tunduk!tentang aku dengan berani. Sedangkan makna konotasi terdapat pada kata sepenuh hati yang berarti bersungguh-sungguh; cermin yang berarti sesuatu yang menjadi teladan. 
• Imaji/citraan 
Dalam puisi ini citraan yang digunakan penyair adalah penglihatan yang terdapat pada kutipan “jangan tunduk!tentang aku dengan berani” dalam kutipan ini kita seolah-olah dapat melihat orang yang sedang tertunduk dan dilarang menunduk oleh penyair.
• Kata konkret 
Adalah kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Misalnya kata “sepenuh hati” melambangkan ketulusan yang dari tokoh “aku”. 
• Rima 
Pada puisi ini rima yang digunakan termasuk rima sempurna karena seluruh suku akhir pada setiap bait bunyinya sama. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat Ulang Tahun|| Konstantina Delima

Monolog Perihal Hujan

Selamat Pagi